Alhamdulillah & terima kasih anda berkunjung di blog ini, mohon saran dan masukan yang positif

Sabtu, 29 Maret 2008

MENGHARAP DURIAN RUNTUH... !


Musim kemarau telah lewat, cukup untuk merangsang proses regenerasi berbagai jenis tumbuhan buah-buahan pada musim penghujan ini. Regenerasi yang dimaksud adalah proses generatif melalui pematangan biji yang dikandung dalam buah. Bagi seluruh makhluk hidup yang menggantungkan diri pada masaknya buah-buahan, ini berarti musim melimpahnya makanan dan yang pasti adalah musim yang mendatangkan rejeki bagi para pedagang buah! Termasuk tentu saja si “Raja Buah” Durian. Siapa yang tidak mengenal durian, buah berkulit keras berduri dengan daging buah lembut kekuningan, beraroma tajam yang khas dan rasa yang nikmat di lidah? Apalagi buah durian yang masak di pohon dan dengan sendirinya pada waktunya jatuh ke tanah yang lembab, aduhai inilah rejeki nomplok bagi penggila durian, sampai-sampai ada idiom yang cukup populer yang berarti sebuah keberuntungan : bagaikan mendapat durian runtuh!

Durian sudah sangat populer dan ramai-ramai telah dibudidayakan oleh masyarakat, dari yang hanya sekedar hobi menanam dalam pot sampai dengan perkebunan skala besar. Dengan semakin luasnya lahan tanaman durian ini, maka pada saat musim durian tiba seringkali terjadi banjir buah yang mengakibatkan turunnya harga di pasaran. Untuk mempertahankan durian di pasaran diperlukan strategi pasar dan teknik pemasaran yang saling menguntungkan antara produsen maupun konsumen. Namun yang sangat disayangkan adalah munculnya berbagai trik kecurangan yang dilakukan oleh petani maupun pedagang durian dengan tujuan mengeruk keuntungan sesaat dengan mengorbankan konsumen. Dalam jangka panjangnya, tentu saja hal ini merusak pasar durian itu sendiri, karena para penikmatnya akan menjadi “kapok” dan mulai mencari durian yang masih asli dan berkualitas.

Berbicara masalah keaslian, Pulau Kalimantan sangat dikenal menyimpan keanekaragaman hayati jenis buah-buah asli khas hutan alam tropis basah dan durian adalah primadonanya. Di dalam hutan, durian bisa tumbuh menjadi pohon yang cukup besar dan tinggi. Buah durian alam ini pada umumnya relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan durian budidaya, namun dari segi rasanya tidak kalah dan bahkan cenderung memiliki rasa dan aroma asli yang memikat hati penggemarnya. Di alam bebas buah ini menjadi sumber makanan burung tingang atau rangkong, satwa khas borneo dan memiliki hubungan batin yang kuat dengan masyarakat Dayak. Salah satu daerah penghasil durian asli ini terletak persis di tengah-tengah wilayah Kalimantan Tengah, di sebuah kota kecil dengan pemandangan yang masih cukup asri, tepatnya terletak di tepi Barat Sungai Katingan yang membelah kabupaten dari hulunya di pegunungan Schwaner – Muller di Utara dan bermuara pada Laut Jawa di Selatan.

Inilah kota kecil itu, Kasongan, ibukota Kabupaten Katingan terletak sekitar 80 Km arah Barat dari ibukota Provinsi Kalimantan Tengah, Kota Palangka Raya. Tanah lempung aluvial di sepanjang tepi Sungai Katingan membuat kawasan tersebut rimbun dengan tumbuhan dan pohon-pohon yang cukup besar peninggalan nenek moyang dahulu. Di kiri-kanan jalan Palangka Raya – Sampit yang membelah kota,, terlihat pohon-pohon durian yang besar dan tinggi mendomonasi mozaik rerimbunan. Pada saat musim buah durian tiba, sepanjang jalur ini akan ramai oleh para pedagang buah “dadakan” yang menjajakan dagangannya di atas bahu jalan maupun di atas lapak-lapak yang sengaja dibuat di pinggiran jalan.

Biasanya dagangan ini akan ramai dikunjungi oleh orang-orang dari luar yang mengharap durian runtuh yang sebenarnya, ingin mencicipi nikmatnya Si Raja Buah pada kesempatan pertama dan langsung dari tempat asalnya. Pada kenyataannya orang lebih suka dan lebih puas menikmati durian asli dari tempatnya sekaligus akan menjadi oleh-oleh yang menarik untuk dibawa ke kota, dibandingkan dengan hanya membeli di kios-kioa buah yang menjamur di kota pada musim buah. Di Kota Palangka Raya, faktor ketidaktahuan pembeli biasanya dimanfaatkan oleh penjual dengan memakai “cap” Durian Kasongan untuk durian yang didatangkan dari tempat lain dengan maksud meningkatkan daya pikatnya. Seringkali pembeli harus kecewa berkali-kali ketika mendapatkan durian yang jauh dari harapan, lain aroma dan rasanya, apalagi biasanya terlalu muda dipetik ataupun sudah kelamaan disimpan dan keburu busuk.

Inilah peluang besar untuk mengembangkan kota kecil Kasongan menjadi kawasan Sentra Durian Kalimantan dengan mempertahankan keaslian dan kualitas serta dukungan sarana pasar maupun promosi yang cukup sebagai alat persaingan yang ampuh. Namun demikian, ada sebuah ganjalan yang cukup meresahkan apabila kita melihat kenyataan akhir-akhir ini. Hal yang dialami penulis ketika langsung turun lapangan adalah kenyataan bahwa tingkat kejujuran para penjaja durian mulai diragukan. Bagaimana tidak, dari 30 buah yang dibawa ke kota, kurang lebih dua per tiganya tidak dapat dinikmati, alias terlalu muda dipetik! Ini bukan lantaran pembeli yang “bodoh” tentunya, sebab siapapun pembelinya, diharapka akan mendapatkan durian berkualitas durian runtuh di Kasongan. Tentu saja kenyataan ini akan menurunka minat orang untuk kembali mengunjungi Kasongan, selanjutnya merusak citra Kasongan itu sendiri. Selebihnya para penggila durian hanya bisa berharap-harap cemas untuk mendapat keberuntungan menemukan durian runtuh.

Sebenarnya kita masih bisa berharap bahwa pada suatu saat Kasongan menjadi sentra produksi durian yang tersohor bahkan sampai ke segala penjuru dunia, kalau saja - dan hanya akan terwujud apabila – para pelaku pasarnya konsisten mempertahankan kekhasan dan kualitas durian alam pedalaman Kalimantan. Semoga harapan ini tidak sekedar mengharap durian runtuh yang alih-alih mendapat untung justru buntung karena buahnya telah keburu habis dipanjat sebelum waktunya....(acp,PH)






3 komentar:

Ikal's Haura mengatakan...

Berarti.....ada lempok durian nie...
wuuuuih.... enaknya kalo bisa dilempar ketarakan.....!!!
Jadi animo masyarakat tentang pengiriman berubah (masyarakat yang mana ya..?) Bahwa pengiriman bukan hanya pengriman file lewat internet tapi bisa juga pengiriman lempok durian...
Pengeriman lewaaaaat.... Kantor pos lah... masa internet bisa, gak mungkinkan? he,,he,,

Yo... Semoga Durian kasongan tetap menjadi primadona asongan warga kasongan...!!!

Anonim mengatakan...

Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the Impressora e Multifuncional, I hope you enjoy. The address is http://impressora-multifuncional.blogspot.com. A hug.

The Stakes mengatakan...

suka makan durian! I am in Labuan right now,just heard that in Borneo (or maybe in your place) got the Durian isi merah. I Don't know the exact name, but thinking that it is special color then it should taste differently.

Kalau boleh kirim ke sini sebiji durian best nye! :)